Ada yang berubah di kantor pusat Perum Perhutani, Jakarta setahun belakangan ini. Bukan. Ini bukan soal beredarnya wanita-wanita cantik sebagai pemanis kantor direksi yang sudah jadi cerita lalu. Melainkan soal semakin ringkasnya kantor yang terletak di Blok 7 Gedung Manggala Wanabakti itu.

Perhutani yang dulu mengokupasi empat lantai di gedung itu, kini hanya menempati tiga lantai saja. Direktorat Keuangan yang dulu menempati lantai 8, kini dijadikan satu dengan Direktorat Rehabilitasi dan Usaha Pengembangan Hutan Rakyat. ‘Berbagi’ lantai juga dialami oleh direktorat Perhutani lainnya.

Ini memang konsekuensi dari langkah transformasi yang dilakukan Perhutani. Mengusung efisiensi di berbagai lini, Perhutani melakukan restrukturisasi organisasi sekaligus penerapan manajemen sumberdaya manusia berdasarkan kompetensi.

“Langkah tersebut menjadi bagian dari program peningkatan produktivitas dari sisi kelembagaan dan SDM. Kami melakukan pengembangan organisasi berdasarkan portofolio bisnis, meningkatkan kompetensi SDM, implementasi sistem manejemen kinerja, dan menerapkan teknologi informasi di seluruh sistem manajemen perusahaan,” papar Direktur Utama Perhutani, Upik Rosalina Wasrin.

Jadi, jangan heran kalau struktur organisasi Perhutani di kantor pusat semakin ramping. Sementara staf yang dulu banyak menumpuk di kantor pusat, kini — sesuai dengan kompetensinya — ditempatkan di daerah, lokasi yang memang berdekatan langsung dengan hutan yang menjadi wilayah pengelolaan Perhutani.

Perhutani juga memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi. Melalui e-Perhutani, sistem teknologi informasi yang dikembangkan Perhutani, maka sistem keuangan dan perencanaan Perhutani dilakukan bisa secara yang terintegrasi. Saat ini sudah terbangun 16 titik pendukung jaringan informasi teknologi dari target 80 titik pada 2011.

Direktur Keuangan Perhutani, ANS Kosasih mengatakan, perubahan ini akan memberikan perubahan luarbiasa pada Pehutani. “One stop shop, dari hulu sampai hilir ini akan terintegrasi, tak ada lagi perbedaan perencanaan sampai pemasaran. Program ini juga akan menghemat 50% dari total belanja kantor. Kami percaya rekonsiliasi data akan mendukung program good corporate governance,” katanya.

Upik menegaskan, efisiensi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari transformasi bisnis Perhutani. Selain efisiensi, Perhutani juga melakukan reposisi bisnis dan peningkatan peranan industri kehutanan. “Transformasi yang kami lakukan punya target untuk menjadikan Perhutani sebagai perusahaan kehutanan kelas dunia,” ujar Upik.

Bangun industri

Sejumlah langkah strategis pun dijalankan. Hasil hutan kayu, yang selama ini banyak dipasarkan dalam bentuk kayu bulat, kini diarahkan untuk dijual dalam bentuk kayu olahan.

Bahkan untuk terus menggenjot kontribusi dari kayu olahan, Perhutani juga melakukan investasi membangun pabrik plywood senilai Rp24 miliar tahun kemarin.

Bukan cuma hasil hutan kayu, Perhutani juga terus memacu penjualan hasil hutan non kayu seperti madu, daun kayu putih dan kokon sutra. Sementara gondorukem yang yang selama ini sudah menjadi andalan terus dipoles agar semakin handal. Untuk itu, Perhutani siap melakukan investasi pembangunan pabrik pembangunan derivatif gondorukem senilai Rp160 miliar tahun ini.

Seperti halnya komoditas hasil hutan, Perhutani juga terus membesut ekowisata. Sejumlah lokasi ekowisata terus dipermak sehingga berhasil meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan.

Reposisi bisnis juga ditandai dengan terjunnya Perhutani ke bisnis pengembangan hutan rakyat. Aksi ini selain berpotensi menambah pendapatan perseroan, sekaligus juga mendorong tumbuhnya hutan rakyat dan pelestarian lingkungan.

Profit, People, Planet

Lewat jalan tersebut, Perhutani berharap bisa mempertahankan tren peningkatan pendapatan yang dicapai beberapa tahun belakangan. Jika tahun kemarin Perhutani berhasil membukukan pendapatan Rp2,44 triliun, maka tahun 2010, kata Upik, pihaknya menargetkan pendapatan Perhutani bisa meningkat menjadi Rp2,9 triliun. “Peningkatan itu terutama disokong oleh komoditas gondorukem dan derivatifnya,” kata dia.

Dengan investasi yang sudah dilakukan untuk pengembangan pabrik gondorukem, maka perseroan diperkirakan bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp800 miliar/tahun lewat penjualan produk mentah gondorukem dan terpentin. “Dengan dibangunnya pabrik pengolahan derivatif gondorukem dan terpentin, diharapkan nilai penjualannya bisa melonjak karena harganya hingga tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan produk mentah,” katanya.

Upik menegaskan, Perhutani akan semakin fokus pada pengelolaan hasil hutan non kayu. Hal itu menjadi bagian dari realisasi komitmen Perhutani untuk mengelola hutan sebagai life support system.

Itu sebabnya, Perhutani pun akan berusaha seoptimal mungkin menjaga keseimbangan ekonomi, sosial dan lingkungan atau biasa disebut dengan profit, people dan planet (P3). Dalam Rencana Jangka Panjang (RJP) 2008-2012, Perum Perhutani akan menggeser tren pendapatan dari kayu ke non kayu, sehingga hutan dapat dipertahankan untuk daur yang lebih panjang.

Dia juga mengungkapkan, untuk menambah semangat dalam melakukan transformasi, pihaknya berencana mengganti logo perseroan menjadi lebih visioner, modern dan energetik. “Logo akan kami sayembarakan. Logo nantinya akan menggambarkan upaya pengelolaan hutan lestari Perhutani yang dilakukan di tingkat lokal, namun punya dampak global. Ini sesuai dengan transformasi Perhutani yang berupaya menjadi world class forestry company,” pungkas Upik.

Pendapatan Kepleset Sorgum

Tahun 2009, Perum Perhutani berhasil membukukan pendapatan sebanyak Rp2,44 triliun atau 101,81% dari rencana. Meski mencatat hasil bagus, Upik Rosalina Wasrin selaku orang nomor satu di plat merah kehutanan ini mengaku belum puas. Pasalnya, menurut dia, pencapaian tersebut bisa lebih besar lagi jika prediksi pendapatan dari komoditas sorgum tidak meleset.

Komoditas sorgum memang sedang digenjot Perhutani sebagai hasil hutan bukan kayu unggulan. Ditanam dengan pola tumpangsari di sela tanaman kayu putih, sorgum bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan, bahan baku pembuatan etanol untuk bioenergi, dan pakan ternak. Dalam proyeksi Perhutani, sorgum berpotensi menyumbang pendapatan hingga Rp38 miliar/tahun. “Ini sesuai dengan konsep hutan sebagai penyedia pangan (food), energi (energy), dan air (water) atau FEW,” ujar Upik.

Namun, berkaca pada hasil di tahun 2009, Upik menilai Perhutani mesti belajar banyak untuk mengoptimalkan potensi komoditas tersebut. Baik dari sisi budidaya, pengolahan, hingga pemasaran. “Kami akan terus mempelajari bagaimana memanfaatkan potensi sorgum dengan optimal. Pastinya, potensi sorgum sangat besar untuk mendukung pendapatan Perhutani,” kata Upik.

Dia menuturkan, pihaknya akan membuat demplot-demplot pengembangan sorgum seluas 750 hektare (ha) dengan masing-masing unit seluas 250 ha dengan lokasi penanaman di Indramayu, Gundih-Purwodadi dan Mojokerto. AI

Pendapatan Perhutani Tahun 2009

No. Unit Kerja Realisasi s/d 31 Des 2009
1 Unit I Jateng 1.118.449.000.000
2. Unit II Jatim 802.478.000
3. Unit III Jawa Barat & Banten 498.415.000.000
4. Puslitbang Cepu 17.770.890
5. Pusdik Madiun 208.550.663
6. Kantor Direksi 30.000.000
7 Total 2.449.568.321.553

Sumber: Perhutani

Rasio Keuangan Perhutani 2007-2009

Tahun Indikator Kinerja
Rasio Keuangan Rasio Operasional Rasio Administrasi Skor Kinerja
2007 41,4 15 15 71,4 A (Sehat
2008 54 15 15 84 AA (Sehat)
2009* 54 15 15 84 AA (Sehat

Sumber: http://agroindonesia.co.id