Ditulis oleh : Agro Indonesia, 23 pebruari 2010
Perum Perhutani melakukan transformasi total untuk merombak habis citra dan menggenjot pendapatan. Lewat peningkatan fokus usaha ke nontimber, perubahan logo sampai penggunaan sistem lelang kayu secara elektronik, penguasa hutan Jawa tersebut bahkan berani mencanangkan laba tahun ini Rp200 miliar.

Di tengah terpuruknya bisnis perkayuan, BUMN Kehutanan terbesar, Perum Perhutani, membuat gebrakan. Penguasa dan pengelola lahan hutan Jawa seluas 2,4 juta hektare (ha) ini melakukan tranformasi dan reposisi total yang telah dilakukan dalam tiga tahun terakhir. Perhutani kini tidak lagi mengandalkan pendapatan dari hasil hutan kayu yang selama ini membesarkannya, tapi mulai menggenjot produk nonkayu dan jasa serta mengelola hutan sebagai life support system.

“Transformasi bisnis yang dilakukan Perhutani adalah meningkatkan peranan industri hasil hutan dan mereposisi bisnis, selain melakukan restrukturisasi organisasi dan penerapan manajemen sumberdaya manusia berbasis kompetensi,” kata Direktur Utama Perum Perhutani, Upik Rosalina Wasrin.

Inilah transformasi yang terus dilakukan Upik dan jajarannya. Dengan perubahan ini, Upik bahkan berani memasang target menjadikan Perhutani sebagai perusahaan kehutanan kelas dunia. Itu sebabnya, portofolio bisnis pun tidak melulu kayu, tapi menuju eco-business di mana hutan dikelola sebagai sistem penyokong kehidupan. Buntutnya, usaha penanaman pun harus dilakukan secara kompetitif dan makin ramah lingkungan, yang ditandai peningkatan penggunaan bibit unggul dan kualitas tegakan. Bahkan, Perhutani pun melakukan pengembangan hutan rakyat lestari berbasis ekobisnis.

Yang menarik, Perhutani juga melakukan ‘revolusi’ industri hasil hutan. Untuk mengangkat nilai tambah produk, Perhutani melakukan investasi besar, baik hasil hutan kayu maupun non kayu. Sementara di sisi penjualan, mereka juga meningkatkan transparansi proses penjualan hasil hutan. Salah satunya dengan terjun di bursa komoditas i-pasar.

Kelembagaan dan sumberdaya manusia juga dibenahi. Struktur organisasi perusahaan kini dikembangkan berdasarkan portofolio bisnis. Sementara untuk mengoptimalkan potensi SDM, dilakukan implementasi sistem manajemen kinerja dan peningkatan kompetensi SDM.

Penggunaan teknologi informasi juga dilakukan untk meningkatkan efisiensi dengan diterapkan pada sistem manajemen dan keuangan perusahaan.

Lalu, apa hasil berbenah itu? Positif, ternyata. Dalam tiga tahun terakhir, pendapatan Perhutani terus menanjak. Tahun 2007 pendapatan Perhutani tercatat Rp2,34 triliun. Setahun berselang, pendapatan naik menjadi Rp2,4 triliun. Tahun lalu, pendapatan Perhutani kembali naik menjadi Rp2,44 triliun. Tahun ini, 2010, Perhutani pun berani mencanangkan target pendapatan Rp2,9 triliun!

Yang luar biasa, kontribusi pendapatan itu akan lebih banyak disokong dari nonkayu. Maklum, pendapatan dari log sudah menurun di bawah 50%, meski tahun 2008 jati masih menjadi backbone, di mana 60% pendapatan Perhutani berasal dari kayu gelondongan. Upik juga berani buka-bukaan soal laba bersih Perhutani. Sesuatu yang di masa lalu haram diungkap ke publik karena besarnya laba yang diperoleh selalu njomplang dengan besar aset yang dikelola Perhutani.

Seiiring kenaikan pendapatan, laba bersih Perhutani pun ikut menjulang. Jika tahun 2007 laba bersih tercatat Rp39,265 miliar, maka tahun 2009 kemarin laba bersih melonjak hingga Rp199,355 miliar. “Untuk tahun 2010, kami menargetkan laba bersih di atas Rp200 miliar, di mana langkah-langkah efisiensi yang kami lakukan bisa menyumbang Rp50 miliar,” ujar Upik.

Transformasi juga membawa konsekuensi renumerasi. Jadi, jangan heran kalau gaji direksi Perhutani kini ikut-ikutan naik. Soal renumerasi, Ketua Dewan Pengawas Perhutani Muslimin Nasution mengingatkan agar renumerasi jangan diambil dari pendapatan yang diperoleh saat ini. “Perhutani seharusnya bisa memanfaatkan hutan yang dikelolanya untuk kesejahteraan karyawannya. Masa orang lain boleh sejahtera dari hutan Perhutani, sementara karyawannya tidak,” kata dia.

Muslimin sendiri menilai positif terhadap hasil transformasi yang sudah dicapai meski menyatakan kalau capaian tersebut masih bisa digenjot lagi.

(Sumber : http://www.perumperhutani.com).