Persaingan bisnis akan semakin tajam dan keras. Hanya perusahaan yang kuat,  sehat dan kompetitif yang dapat bertahan. Diperlukan  perubahan-perubahan fundamental agar tetap eksis. The Jakarta Consulting Group (JCG) telah mengembangkan satu model transformasi bisnis yang rinci, komprehensif dan terintegrasi untuk membantu setiap perusahaan dalam menghadapi  tantangan bisnis di masa depan.

Transformasi bisnis adalah seluruh proses perubahan yang diperlukan oleh suatu korporasi untuk memposisikan diri agar lebih baik dalam menyikapi dan menjawab tantangan-tantangan bisnis baru, lingkungan usaha yang berubah secara cepat maupun keinginan-keinginan baru yang muncul  dari dalam perusahaan. Perubahan dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan terhadap pola pikir, pola pandang dan pola tindak perusahaan, strategi bisnis, budaya perusahaan maupun perilaku dan kemampuan organisasi.

JCG FRAMEWORK OF BUSINESS TRANSFORMATION

Sebagai pola pikir dan kerangka acuan dalam melakukan transformasi bisnis yang terintegrasi, JCG mengembangkan Framework of Business Transformation seperti terlihat  dalam gambar dibawah ini.

JCG Framework of Business Transformation ini terdiri dari dua unsur. Pertama JCG Value Chain of Business Transformation, yang berisi tahapan-tahapan yang harus dilakukan agar perubahan yang dilakukan dapat menciptakan nilai. Kedua. JCG Implemetation Process of Business Transformation, yang berisi langkah-langkah yang diperlukan dalam melaksanakan bisnis secara terencana dan baik.

JCG Value Chain of Business Transformation meliputi lima tahap,  yaitu tahapan pertama, visioning dan strategic positioning serta corporate strategy development; tahap kedua, peningkatan kemampuan organisasi; tahap ketiga, pengembangan sumberdaya manusia; tahap keempat, pemantapan budaya perusahaan; dan tahap kelima, pencapaian sasaran perusahaan dan penciptaan nilai.

Tahap pertama adalah  visioning, strategic positioning dan corporate strategy development untuk menetapkan arah dan tujuan perusahaan serta memposisikan diri agar lebih kompetitif. Tahap kedua, peningkatan kemampuan organisasi. Tahap ketiga, pengembangan sumberdaya manusia untuk  melakukan perubahan mendasar pada  pengelolaan dan kesisteman sumberdaya manusia. Tahap keempat, pemantapan budaya perusahaan diperlukan agar seluruh kekuatan perusahaan dapat ‘diikat’ menjadi satu dan diarahkan kepada sasaran yang diinginkan. Budaya perusahaan merupakan pola pikir,

pola tindak dan  perilaku organisasi beserta sumberdaya manusianya di dalam melakukan kegiatan bisnisnya. Tahap kelima, pencapaian sasaran perusahaan dan penciptaan nilai ditujukan untuk  menerapkan kiat-kiat bisnis terbaik  di dalam melaksanakan strategi bisnis dan kegiatan operasi agar tercipta nilai yang besar.

KERANGKA KERJA TRANSFORMASI BISNIS

Dalam pelaksanaan transformasi bisnis, setiap tahap harus dilakukan  secara utuh dan runtut. Proses pelaksanaannya dapat  memakai JCG Implementation Process of Business Transformation seperti diagram di bawah ini.

Berawal dengan visioning dan positioning yang intinya adalah upaya memposisikan diri dengan metoda scenario planning. Tujuannya untuk mengindentifikasikan segala kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan sehingga kebijakan-kebijakan bisnis dan operasional dapat ditetapkan secara lebih baik dan dini. Isu-isu strategis yang akan dihadapi oleh perusahaan dikumpulkan dan dikaji dengan analisa SWOT dan kajian iklim usaha. Dengan demikian skenario masa depan yang paling tepat bagi perusahaan dapat ditetapkan sebagai skenario idaman. Dari skenario idaman inilah dapat  dijabarkan menjadi Visi, Misi dan Tatanilai baru, rencana korporat jangka panjang dan strategi bisnis yang tepat, serta peta jalan (road map) lengkap dengan target-target pencapaian (milestones) yang diperlukan didalam melaksanakan bisnisnya.

Tahap selanjutnya adalah meningkatkan kemampuan organisasi,. Terdapat  beberapa langkah yang harus dilakukan. Pertama, penyusunan  strategi korporat dan rencana bisnis yang lebih terfokus dan terintegrasi. Kedua, rencana bisnis dengan ukuran kinerja yang jelas dan  menantang. Ketiga, kemampuan untuk melaksanakan strategi menjadi kenyataan. Keempat, aplikasi good corporate governance. Kelima,  keselarasan yang kuat antara korporat dan unit-unit bisnis. Keenam, penerapan konsep dan aplikasi Manajemen Mutu Terpadu sebagai “pola hidup dan pola tindak”. Ketujuh,  struktur organisasi berdasarkan proses yang utuh. Kedelapan, lingkungan kerja berdasarkan team-based. Kesembilan,  konsep organisasi yang ramping (“lean and mean”. Kesepuluh, kesisteman organisasi yang menunjang. Kesebelas,  kemampuan menciptakan nilai yang tinggi. Keduabelas,   kemampuan untuk memupuk modal usaha; serta terakhir adalah penetapan kebijakan strategic outsourcing yang tepat guna.

Di dalam upaya pengembangan sumberdaya manusia perlu diterapkan konsep manajemen sumberdaya manusia yang terintegrasi dan selalu mengacu kepada Visi, Misi, Tatanilai dan strategi bisnis perusahaan.  Kaji ulang kesisteman sumberdaya manusia perlu dilakukan secara terintegrasi mulai dari manpower planning, rekruitmen, pelatihan dan pengembangan karir, sistem penilaian kinerja, kompensasi, sampai dengan rencana redeployment.

Pemantapan budaya perusahaan merupakan faktor sangat penting karena budaya menjadi isi, jiwa dan perilaku  perusahaan dan pekerjanya  serta merupakan motor penggerak perusahaan di dalam menyikapi tantangan bisnis. Budaya perusahaan juga merupakan salah satu elemen yang paling penting dalam membangun citra dan reputasi perusahaan.  Untuk dapat mengetahui budaya perusahaan sekarang dan budaya yang diinginkan dapat dilakukan beberapa survai dan kajian, antara lain: survai pendapat karyawan, audit budaya dan citra, dan force field analysis. Dari kajian-kajian tersebut dapat ditentukan unsur-unsur pembangun budaya dan citra sebagai basis untuk melakukan perbaikan dan pemantapan menuju budaya baru. Langkah terakhir adalah memasukkan budaya baru kedalam kesisteman perusahaan.

Tahapan akhir dari transformasi bisnis adalah tahapan pencapaian sasaran bisnis dan penciptaan nilai. Dalam tahap ini diperlukan pelaksanaan operasi yang mengikuti standard operating procedures (SOP) yang baku dan diterapkan secara konsisten, aplikasi manajemen mutu terpadu, manajemen kontrol beaya,  dan akuntabilitas. Sebagai tolok ukur keberhasilan dapat dipergunakan JCG Transformational Scorecard, yang terdiri dari lima kelompok tolok ukur, yaitu: ukuran kinerja finansial, tingkat kepuasan pelanggan, kinerja sumberdaya manusia dan kemampuan belajar,  kinerja kesisteman organisasi, dan kinerja operasional.

Seluruh tahapan di atas dapat dilakukan dengan sangat efisien dan efektif dengan bantuan teknologi informasi sebagai process dan business enablers. Ada dua elemen besar dalam teknologi informasi, yang pertama adalah informasi dan yang kedua adalah teknologi. Kedua elemen tersebut apabila dikemas dengan benar akan menjadi teknologi informasi yang dapat memberikan nilai tambah yang besar kepada proses kerja.  Demikian pula, informasi yang dimiliki oleh perusahaan akan dapat dikelola dengan lebih baik dengan menghilangkan kesalahan manusia apabila dibantu dengan teknologi  informasi yang tepat.

Untuk mempunyai sistem teknologi informasi yang sempurna, perusahaan perlu melewati tiga tahapan. Tahapan pertama adalah penyempurnaan proses kerja; tahapan kedua adalah mengetahui kebutuhan pengguna; dan tahapan ketiga adalah penggabungan proses kerja, kebutuhan dan teknologi yang ada. Dengan penggabungan tersebut, proses kerja organisasi dapat lebih efektif dan efisien.

TRANSFORMASI BISNIS SEBAGAI RESPONS TERHADAP TANTANGAN

Perusahaan yang melakukan transformasi bisnis secara fundamental, utuh dan berkesinambungan memperoleh banyak manfaat, antara lain: perusahaan dapat  memfokuskan diri kepada  bidang bisnis yang lebih menjanjikan (business repositioning), menciptakan daya tahan dan daya saing yang lebih besar,  meningkatkan kemampuan organisasi agar dapat memiliki daya dukung yang lebih kuat,   menciptakan nilai dan penghasilan finansial yang lebih besar serta  berpeluang lebih besar menjadi perusahaan bertaraf kelas dunia.

JCG berpendapat bahwa hanya perusahaan yang mampu merubah dirinya dalam menghadapi tantangan bisnis kedepan yang akan “survive”.

“It is much better that  you initiate the change now before the external competition changes your company (by force)